Sumedang, Jawa Barat (REDAKSIPIL) - MTs Ma’arif Sidaraja, Sumedang, Jawa Barat memasifkan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) kepada remaja putri dalam rangka mencegah calon ibu terkena anemia sejak usia muda. “Kita mulai perbaiki kelemahan program ini dari tahun 2016, sejak 2019 dengan pendampingan Puskesmas, kita mendapat pengalaman baru untuk membangkitkan gairah anak-anak mengonsumsi TTD,” kata

MTs Ma’arif Sidaraja masifkan TTD ke remaja putri untuk cegah anemia

Sumedang, Jawa Barat. (redaksipil) – MTs Ma’arif Sidaraja, yang berada di Sumedang, Jawa ⁤Barat, aktif⁤ dalam memberikan Tablet ​Tambah‍ Darah (TTD) kepada remaja putri untuk mencegah terjadinya anemia pada calon ibu ⁤sejak dini.

“Kami mulai memperbaiki program ini sejak 2016 dan, dengan dukungan dari Puskesmas sejak 2019, kami belajar banyak hal baru yang membuat anak-anak lebih semangat untuk mengonsumsi⁤ TTD,” ungkap Kepala Sekolah MTs Ma’arif Sidaraja, Agus Nurdin Rudiana, ​di Sumedang, ​Jawa Barat, pada ‍hari Senin.

Agus menjelaskan bahwa TTD diberikan secara⁢ rutin kepada remaja putri setiap hari Selasa pada jam pertama pelajaran. Konsumsi obat tersebut diawasi langsung⁣ oleh para kader dan dicatat melalui Google Sheet yang kemudian dilaporkan ke Puskesmas.

Sebelumnya, program ini sempat menghadapi penolakan dari ‍murid maupun orang tua. Remaja putri berpikir bahwa TTD bisa menyebabkan kenaikan⁣ berat badan. Beberapa dari mereka juga kesulitan menelan obat tanpa menggunakan bantuan ‍seperti pisang atau menggerus⁣ obat terlebih dahulu.

Sementara itu, orang‌ tua merasa khawatir karena kurangnya edukasi dan takut akan efek⁤ samping yang ⁢mungkin timbul pada anak mereka.

Namun, Agus menjelaskan bahwa dengan sosialisasi yang intensif dari bagian kesiswaan dan Puskesmas, hambatan tersebut perlahan-lahan teratasi. Dokumentasi ⁤dilakukan ⁣secara ⁢rutin oleh‌ sekolah untuk membangkitkan semangat⁤ remaja putri dalam melawan anemia dan stunting.

Wakil Kepala ‍Bagian Kesiswaan MTs Ma’arif Sidaraja, Irma Frimasari, menguraikan bentuk-bentuk sosialisasi yang⁢ diberikan kepada remaja putri. Salah satunya adalah menekankan pentingnya sarapan sebelum mengonsumsi TTD.

Irma juga mengklarifikasi asumsi bahwa TTD membuat ​gemuk, dan sebaliknya, menjelaskan bahwa obat ini memberikan manfaat karena kandungan zat besinya yang mencegah anemia ​akibat kadar hemoglobin yang rendah.

“Saya selalu mengatakan kepada anak-anak, ‌stunting tidak bisa dicegah, tetapi anemia bisa dicegah,” ucapnya.

Hal ‍serupa juga disampaikan kepada orang tua yang hadir dalam pertemuan sekolah.​ Ia menambahkan bahwa anemia tidak hanya mempengaruhi kesehatan remaja putri, tetapi⁤ juga mengurangi‍ konsentrasi ‍belajar mereka.

Berkat kerjasama dengan Puskesmas, kini⁣ orang tua mulai mendukung program ini. Beberapa dari mereka bahkan membawa⁤ buah-buahan untuk dijadikan rujak guna memastikan asupan​ gizi anak-anak terpenuhi.

Hal tersebut dibenarkan oleh siswi kelas 9, Intan Nur Aulia, yang merasa lebih sehat dan fokus dalam pelajaran. ​Melalui edukasi dari guru ⁣dan Puskesmas,⁤ Intan semakin⁢ yakin bahwa TTD membantu mencegah ‌kelahiran generasi ⁤stunting. Menurutnya, baik anemia maupun stunting sama-sama mengerikan‍ bagi masa depan perempuan.

“Pada awalnya memang merasa mual, tetapi lama ‍kelamaan tubuh terbiasa. Sekolah juga memberi tahu orang⁣ tua manfaatnya, jadi tidak masalah kalau minum TTD,” kata Intan.

Siswi‌ kelas 9 lainnya, Alipfia Nuraini, menyatakan bahwa pemberian ‌TTD⁣ tetap dilanjutkan meski sekolah libur.

“Sebelum liburan, obat sudah dibagikan kepada kami. ⁣Nanti kami akan membuat dokumentasi pribadi dari rumah, jadi kami bisa tetap melaporkan sudah diminum atau belum,” ‌ujar ‍Alipfia.

Incoming search terms:

  • krisis pangan ppt 2024