Raffi Ahmad Terancam Miskin, Tandanya Sudah Muncul di Amerika

Raffi Ahmad Terancam Miskin, Tandanya Sudah Muncul di Amerika

Jakarta,‍ redaksipil – ‍Banyak orang bermimpi‍ menjadi influencer terkenal​ seperti⁤ YouTuber Mr. Beast atau TikToker Charli D’Amelio. Di Indonesia, salah satu bintang media sosial terkenal adalah Raffi ⁣Ahmad. Namun, ternyata dunia gemerlap kreator konten tidak seindah ⁤yang terlihat di‌ layar smartphone Anda. Industri ⁤ini semakin padat dan memunculkan persaingan ketat untuk mendapatkan uang.

Platform dilaporkan⁢ tidak⁣ lagi seroyal dulu dalam memberikan komisi kepada kreator konten. Para merek terkenal juga ⁣semakin selektif dalam bekerja sama dengan ⁣influencer. Setidaknya begitulah‍ lapor The​ Wall Avenue Journal. Salah satu contohnya adalah Clint Brantley, ‍kreator konten penuh waktu sejak tiga tahun lalu.

Brantley membagikan konten di TikTok, ‍YouTube, dan⁤ Twitch, kebanyakan tentang tren terkait ‌permainan seluler Fortnite. Meski memiliki lebih dari⁢ 400.000 follower dengan rata-rata penonton lebih dari 100.000, penghasilan Brantley tahun lalu masih lebih kecil dari pendapatan tahunan rata-rata pekerja penuh waktu di‍ AS ‌pada⁤ 2023 sebesar US$ 58.084 atau sekitar Rp 950 juta.

Pria berusia 29 tahun ini tidak dapat berkomitmen untuk menyewa apartemen ‌karena pendapatannya yang tidak tetap, yang berasal dari kerja sama⁤ sponsor atau hadiah online yang tidak konsisten. Saat ‌ini, Brantley masih tinggal bersama ibunya di Washington. “Saya sangat rentan,” ujarnya, dikutip dari The Wall Avenue Journal, Rabu⁤ (19/6/2024).

The ‌Wall Avenue ‌Journal mencatat bahwa meraih penghasilan yang layak dan stabil ‌sebagai kreator konten‍ adalah ​hal⁤ yang sulit, ⁢dan akan semakin sulit. Platform semakin kecil membagikan uang untuk postingan populer, sementara merek semakin ‌selektif dalam memilih kesepakatan ⁢dengan influencer.

Kondisi ini diperparah⁤ dengan ⁢ancaman TikTok diblokir di ‌AS pada tahun 2025. Banyak kreator ‌konten khawatir apakah mereka​ masih ⁣bisa mendapatkan penghasilan dari media‌ sosial jika salah satu sumber​ uang mereka ⁢dihapus.

Menurut laporan⁤ Goldman Sachs‍ pada‌ tahun ​2023, ratusan juta orang di seluruh ‌dunia ⁣mem-posting konten yang ​menghibur dan mengedukasi di media sosial,​ dengan sekitar 50 juta orang menghasilkan uang dari sana. Bank investasi ‌tersebut memperkirakan jumlah kreator yang ‍menghasilkan pendapatan akan⁤ tumbuh pada tingkat tahunan sebesar ⁢10% hingga 20% pada tahun 2028. Hal ini berkontribusi‍ pada meningkatnya jumlah pencari nafkah, meski Departemen Tenaga Kerja tidak melacak ⁤gaji para influencer.

Secara rata-rata, kreator konten membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun​ untuk mengumpulkan pendapatan dari platform media​ sosial, kerja sama merek, hingga tautan afiliasi. Namun,‍ semakin banyak orang yang mencari rezeki di industri ‌ini, ⁤semakin kecil pula ‘kue’ yang harus dibagi-bagi.

Menurut NeoReach, tahun lalu 48% influencer menghasilkan kurang dari⁣ US$ 15.000 atau sekitar ‌Rp 245 juta. Hanya 14%‌ yang menghasilkan⁤ lebih dari US$ 100.000 ‌atau sekitar Rp⁤ 1,6 miliar.

Ketimpangan pendapatan influencer ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti ⁣apakah mereka bekerja secara penuh ⁢waktu atau paruh waktu, jenis konten yang dibagikan, dan berapa lama mereka⁢ telah berkarier sebagai ​influencer.

Beberapa orang yang terkenal saat pandemi Covid-19 dan ​fokus pada topik populer seperti ⁣fesyen, investasi, ⁢dan gaya hidup, merasa‌ sangat terbantu karena momentumnya tepat. Namun, ‍di balik ⁤itu semua, kreator konten mengaku ⁢pekerjaan ini sangat menguras energi dan mental.‍ Mereka ⁢harus selalu memikirkan ‌konten apa yang akan disukai audiens dan mengambil momentum yang tepat.

Influencer menghabiskan waktu berhari-hari ⁤untuk merencanakan konten, memproduksi, hingga ‌melalui ‍proses edit untuk ⁤diunggah ke media sosial. Mereka juga harus terus berinteraksi dengan penggemar untuk menjaga popularitas.

“Ini⁢ adalah pekerjaan ​yang sangat berat dibandingkan dengan‍ apa yang dikira⁣ kebanyakan orang,” kata ⁢analis Emarketer,⁤ Jasmine Enberg.

“Kreator yang bisa hidup dari menjadi influencer telah melakukan pekerjaan ini selama bertahun-tahun. Kebanyakan tidak menjadi terkenal dalam waktu singkat,” kata Enberg.

Lebih lagi, influencer yang bekerja secara mandiri​ tidak mendapat keuntungan ​seperti pekerja⁤ kantoran. Mereka tidak ⁣mendapatkan jaminan kesehatan, uang pensiun, serta bonus tahunan.

Di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi, influencer⁤ menghadapi tekanan yang semakin sulit ​untuk mengamankan keuangan mereka.

Penghasilan dari Platform Makin Kecil

Pada ⁣2020-2023, TikTok ‍memiliki program ⁤pendanaan ⁣untuk⁣ kreator ⁣hingga‌ US$ 1 miliar. YouTube melalui fitur Shorts juga memungkinkan kreator mendapatkan uang sekitar US$ 100-10.000 per bulan dengan program pendanaan sementara. Instagram​ Reels memberikan penghargaan kepada kreator dalam jumlah ⁣yang fluktuatif. Bonus⁤ besar itu menjadi strategi agar semakin banyak orang⁢ membuat konten di platform mereka.

Namun, kini platform mulai mengubah kebijakan pembayaran untuk kreator konten. Ketentuan untuk penghasilan TikToker kini diperketat. Setidaknya ​harus memiliki ‍10.000 follower dengan penonton minimum 100.000 dalam sebulan.

Instagram juga⁣ sedang menguji program ‘hanya undangan’ ⁢yang ​memberikan penghargaan uang bagi kreator yang membagikan ⁣Reels‍ dan foto.

YouTube ‌memperkenalkan program⁢ pembagian uang iklan pada tahun lalu untuk kreator Shorts yang‌ memiliki setidaknya‍ 1.000 subscriber dan 10 juta penonton dalam 90⁣ hari. Mereka akan diberikan pembagian ​pendapatan iklan sebesar 45%⁣ untuk konten yang mereka bagikan.

Semakin lama, TikToker mengakui semakin sulit⁣ mencari uang. Salah satunya Ben-Hyun yang mengatakan pada Maret lalu mendapatkan US$ 200-400 per satu juta ‍penonton. Namun, kini pendapatannya menurun meski pengikutnya bertambah hingga 2,9 juta.

Ben-Hyun mengaku ⁤kini hanya mendapat US$ 120 untuk video yang mendapatkan 10 juta penonton. Hal ini menunjukkan, ‍meski‍ influencer memiliki audiens besar, tetap sulit untuk memonetisasinya jika⁣ hanya mengandalkan pendapatan dari platform.

Danisha​ Carter juga berbagi keresahan serupa.‍ Ia​ mengatakan TikTok-nya ‍memiliki 1,9 juta pengikut. Menurutnya, para⁣ kreator konten berhasil membuat audiens ‘ketagihan’ di platform online ⁣dan mendatangkan ‌pendapatan miliaran dolar AS ⁤ke TikTok‍ dan lainnya.

Namun, bayaran untuk influencer tidak sebanding. Ia mengaku mendapatkan pendapatan dari⁢ TikTok sebesar US$ 12.000. Untuk menambah pendapatan, ia memutuskan membuat merchandise‌ dan mampu menghasilkan US$ 5.000 pada tahun lalu.

“Kreator harus dibayar adil dengan⁤ persentase ⁢yang sesuai dengan pendapatan yang diraih aplikasi,” kata Carter.

“Harus ada transparansi⁤ soal bagaimana kami dibayar, dan kebijakannya harus konsisten,” ia menyarankan.**Jakarta, redaksipil** – Banyak ⁣orang mengimpikan menjadi influencer​ terkenal seperti YouTuber Mr.‌ Beast ⁣atau TikToker Charli D’Amelio. Di⁣ Indonesia sendiri, salah satu nama terbesar di media​ sosial adalah Raffi Ahmad.

Namun, kehidupan di balik​ gemerlap‍ dunia kreator konten ⁤tidaklah ⁤seindah yang terlihat di layar smartphone Anda.​ Industri ini semakin padat dan memunculkan⁤ persaingan ketat untuk mendapatkan⁣ penghasilan.

Platform juga‌ kini ‍dilaporkan tidak lagi se-royal dulu dalam memberikan komisi kepada‍ para kreator konten. Brand-brand besar juga semakin selektif dalam ​memilih influencer untuk bekerja sama.

Menurut laporan dari The Wall Street‍ Journal, salah satu contoh⁢ adalah Clint Brantley, kreator konten penuh waktu selama ⁢tiga tahun terakhir ‍yang rutin membagikan konten di TikTok, YouTube, dan ⁣Twitch, ⁣terutama terkait ​game Fortnite. Meskipun​ memiliki lebih dari 400.000 follower dan rata-rata kontennya ditonton lebih dari 100.000 kali, penghasilan Brantley tahun lalu lebih kecil dari gaji tahunan ⁤median pekerja penuh waktu di AS pada 2023⁣ sebesar USD 58.084 atau sekitar Rp 950 juta.

Brantley yang berusia 29 tahun belum siap untuk berkomitmen menyewa apartemen karena penghasilannya ​yang tidak tetap. Ia mengandalkan⁣ pemasukan dari ‍kerja‍ sama sponsor atau hadiah online yang tidak‌ konsisten.

Saat ini, Brantley masih tinggal bersama ibunya di Washington. “Saya sangat‍ rentan,” katanya, seperti dikutip dari The Wall Street Journal pada Rabu​ (19/6/2024).

The​ Wall ⁣Street Journal juga menyebutkan ‍bahwa ⁣meraih penghasilan layak dan dapat diandalkan sebagai kreator ⁤konten sangat⁢ sulit, ⁤dan akan semakin sulit. Platform-platform kini semakin mengetatkan kebijakan pembayaran mereka. Brand-brand⁤ juga ‌semakin‍ selektif dalam memilih ⁤influencer untuk bekerja sama.

Kondisi ini diperparah dengan ancaman pemblokiran ‍TikTok di AS pada tahun 2025 mendatang.⁤ Banyak ⁤kreator konten yang⁤ khawatir apakah⁤ mereka ‍masih bisa ‌mendapatkan penghasilan dari media sosial jika salah satu sumber pendapatan mereka ⁢dihapus.

Menurut laporan ⁣Goldman Sachs pada tahun 2023, ratusan juta orang ‍di seluruh dunia mem-posting konten hiburan dan edukasi⁤ di⁣ media sosial. Sekitar 50 juta orang menghasilkan uang⁢ dari sana. ⁤Bank investasi tersebut memprediksi, jumlah kreator yang ‌menghasilkan pendapatan akan tumbuh ‍pada tingkat tahunan sebesar 10% hingga 20%⁣ pada tahun‍ 2028.

Secara rata-rata, kreator ‍konten membutuhkan waktu‍ bulanan bahkan tahunan untuk ‌mengumpulkan pendapatan dari platform media sosial, kerja sama brand, hingga link‍ afiliasi. Namun, makin banyak yang mencoba peruntungan di⁤ industri ini, makin kecil pula bagian ‘kue’‍ yang harus dibagi-bagi.

Menurut NeoReach,⁤ tahun lalu ⁣48% influencer ⁣menghasilkan kurang dari USD 15.000 atau sekitar Rp 245 juta. Hanya 14% yang⁤ menghasilkan⁤ uang lebih dari USD 100.000 atau ⁢sekitar Rp 1,6 miliar.

Ketimpangan pendapatan di kalangan influencer ditentukan oleh‍ beberapa faktor, seperti apakah influencer bekerja secara penuh waktu atau ⁣paruh waktu, jenis konten yang dibagikan, hingga durasi mereka berkarir sebagai ​influencer.

Beberapa orang yang terkenal saat‌ pandemi Covid-19 dan fokus pada topik‍ populer seperti fashion, investasi, dan hack gaya hidup, mengaku sangat terbantu karena momentumnya pas.

Namun, di​ balik⁣ itu semua, kreator konten mengaku pekerjaan ini sangat menguras energi⁤ dan mental. Mereka harus selalu memikirkan konten apa ⁤yang akan disukai audiens dan ⁤mengambil momentum ⁣yang tepat.

Influencer ⁣menghabiskan waktu berhari-hari untuk merencanakan konten, memproduksi, hingga melewati proses edit untuk diunggah ke ‌media sosial. ​Mereka juga harus selalu berinteraksi dengan para fans ‍untuk ​menjaga ‌popularitas.

“Ini adalah⁤ pekerjaan yang sangat‌ berat dibandingkan dengan apa yang banyak orang kira,” kata analis Emarketer, Jasmine Enberg.

“Kreator yang bisa hidup dari ‍menjadi influencer telah ⁣melakukan pekerjaan ini selama bertahun-tahun. Kebanyakan tidak‌ menjadi besar dalam waktu singkat,” ‍tambah⁤ analis tersebut.

Lebih lagi, para influencer yang bekerja mandiri tidak mendapatkan keuntungan seperti pekerja kantoran. Mereka tidak mendapatkan‍ jaminan kesehatan, uang pensiun, serta bonus ⁤tahunan.

Di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi, influencer menghadapi tekanan yang semakin sulit ‍untuk mengamankan⁤ keuangan mereka.

### Penghasilan ⁢dari Platform‌ Semakin ​Kecil

Pada tahun 2020-2023, TikTok⁣ memiliki program ⁢pendanaan ‌untuk kreator hingga USD 1⁤ miliar. YouTube melalui fitur‌ Shorts juga memungkinkan kreator⁣ menghimpun uang ⁢sekitar USD 100-10.000 per bulan dengan program pendanaan sementara.

Namun, kini platform mulai ‌mengubah kebijakan pembayaran mereka. ⁤TikTok kini menetapkan bahwa kreator harus ⁤memiliki setidaknya 10.000 follower dan 100.000 tayangan⁢ dalam ⁢sebulan untuk ⁢bisa menghasilkan uang. ⁢Instagram juga tengah menguji program ‘invitation-only’ yang memberikan penghargaan uang bagi kreator yang membagikan Reels dan foto. YouTube memperkenalkan ⁣program pembagian uang iklan untuk kreator Shorts yang memiliki setidaknya 1.000 subscriber dan 10 juta tayangan dalam 90​ hari, dengan⁤ pembagian pendapatan ​iklan⁣ sebesar ⁤45%.

Influencer semakin mengeluhkan betapa sulitnya mencari uang di ‍platform seperti ⁣TikTok. Salah satunya Ben-Hyun yang pada‌ bulan Maret lalu mendapatkan USD 200-400 per satu juta tayangan, namun kini penghasilannya menurun meski follower-nya bertambah hingga 2,9 juta.

Keadaan Ben-Hyun kini hanya mendapat USD 120 untuk video yang mencapai 10 juta tayangan.‍ Hal ini menunjukkan⁢ bahwa ⁢meskipun influencer memiliki banyak audiens,⁣ tetap sulit untuk memonetisasinya jika hanya bergantung pada pendapatan ​dari platform.

Danisha Carter juga mengungkapkan ‌keresahan yang sama. Ia mengatakan TikTok-nya ‍memiliki 1,9 juta⁤ pengikut. ‍Menurutnya, para kreator konten berhasil membuat audiens ‘ketagihan’ di platform online dan mendatangkan ‍pendapatan ‍miliaran dolar AS ke ⁤TikTok dkk. Namun, bayaran untuk‍ influencer tidak sebanding. Ia hanya mendapatkan pendapatan sebanyak USD 12.000 dari ⁤TikTok. Untuk menambah pendapatan, ‌ia memutuskan untuk menjual merchandise dan mampu‌ menghasilkan USD 5.000‍ pada​ tahun lalu.

“Kreator⁢ harus dibayar dengan adil sesuai dengan‍ persentase⁢ pendapatan yang diraih aplikasi,” kata Carter. “Harus ada transparansi dalam bagaimana kami dibayar,‍ dan kebijakannya harus konsisten,” ⁣tambahnya.

Jakarta, redaksipil Banyak ⁤orang⁣ bermimpi menjadi influencer terkenal seperti ⁤YouTuber Mr. Beast ​dan TikToker Charli D’Amelio. Di Indonesia,⁤ salah satu nama besar di media sosial adalah Raffi Ahmad.

Namun, dunia kreator konten⁣ ternyata tak seindah yang tampak di layar smartphone Anda. Industri ini kini semakin ⁣padat dan kompetitif untuk menghasilkan uang.

Platform​ juga dilaporkan tidak lagi sekooperatif‍ dulu⁣ dalam memberikan ⁣komisi ‌kepada kreator konten. Brand-brand terkenal pun lebih selektif dalam memilih ​untuk bekerjasama dengan influencer.

Menurut laporan The Wall Avenue Journal, salah satu contoh adalah Clint Brantley⁤ yang sudah menjadi ⁣kreator konten⁤ penuh waktu sejak tiga tahun lalu.

Brantley membagikan konten di⁣ TikTok, YouTube, dan Twitch, kebanyakan⁣ tentang tren seputar game mobile Fortnite.

Meski memiliki lebih dari 400.000 pengikut dan rata-rata view lebih dari 100.000, penghasilan Brantley tahun lalu lebih kecil dari gaji tahunan median pekerja penuh waktu di AS pada ⁤2023 sebesar US$ 58.084 atau sekitar Rp 950 juta.

Pilihan Redaksi

Pria 29 tahun ⁣ini tidak dapat berkomitmen untuk menyewa apartemen karena penghasilannya yang tidak stabil. Sumber ⁤pendapatan utamanya berasal dari kerjasama sponsor atau hadiah⁤ online yang tidak konsisten.

Saat ini, Brantley masih tinggal dengan ibunya di Washington. “Saya sangat rentan,” ujarnya dikutip ​dari The Wall Avenue Journal, Rabu (19/6/2024).

Laporan The Wall Avenue Journal menuliskan bahwa mendapat penghasilan yang ⁣layak dan stabil sebagai kreator konten adalah hal‌ yang sulit, dan akan semakin sulit.

Platform-platform mulai memperketat alokasi dana untuk postingan populer. Sementara⁤ itu, brand-brand​ menjadi lebih selektif dalam memilih influencer.

Kondisi ini semakin diperparah dengan ancaman pemblokiran ‍TikTok di AS pada tahun 2025. Banyak kreator konten khawatir apakah mereka masih bisa menghasilkan uang dari media sosial jika‌ salah satu sumber penghasilan mereka dihapuskan.

Menurut laporan Goldman Sachs pada 2023, ratusan juta⁣ orang di‌ seluruh dunia membagikan konten yang menghibur dan mengedukasi⁣ di media sosial. Sekitar 50 juta orang membuat pendapatan dari sana.

Bank investasi tersebut ‌memperkirakan jumlah kreator yang menghasilkan pendapatan akan tumbuh pada⁣ tingkat tahunan sebesar 10% hingga 20% hingga tahun 2028.

Hal ini berkontribusi pada‌ penambahan⁢ jumlah pencari nafkah, meskipun Departemen Tenaga Kerja ‍tidak melacak gaji para ‍influencer.

Secara rata-rata, kreator konten butuh waktu bulanan bahkan tahunan untuk‍ mengumpulkan pendapatan dari platform media sosial, kerja sama brand, hingga link afiliasi. Namun, semakin ⁤banyak yang terjun di industri ini, semakin kecil pula ‘kue’ yang⁤ dibagi-bagi.

Menurut NeoReach, pada tahun lalu 48% influencer mengumpulkan kurang dari US$‌ 15.000 atau sekitar Rp⁢ 245​ juta. Hanya 14% yang mengumpulkan uang lebih dari US$ 100.000 atau⁢ sekitar Rp 1,6 ⁤miliar.

Ketimpangan pemasukan influencer ini​ ditentukan beberapa ⁤faktor. Misalnya apakah influencer ‌bekerja secara​ penuh waktu ‌atau paruh⁢ waktu, tipe⁣ konten yang dibagikan, hingga durasi mereka‍ berkarir sebagai influencer.

Beberapa orang yang terkenal saat pandemi Covid-19 dan fokus pada topik populer seperti fesyen, ‌investasi, dan life hacks, mengaku sangat terbantu karena momentumnya pas.

Namun, di ​balik itu semua, kreator konten mengaku pekerjaan⁢ ini sangat menguras energi dan mental. ‍Mereka harus ⁣selalu memikirkan konten yang ​disukai audiens dan mengambil momentum yang tepat.

Influencer‌ menghabiskan waktu berhari-hari​ untuk merencanakan konten, memproduksi, hingga melalui proses edit sebelum diunggah ke⁢ media‍ sosial. Mereka juga ⁣harus terus⁢ berinteraksi dengan para fans untuk menjaga popularitas.

“Ini adalah pekerjaan yang sangat berat dibandingkan apa ⁢yang dipikir kebanyakan orang,” kata analis Emarketer, Jasmine Enberg.

“Kreator yang bisa hidup dari menjadi ⁣influencer telah melakukan pekerjaan ini selama bertahun-tahun. Kebanyakan tidak menjadi terkenal dalam waktu singkat,” tambahnya.

Lebih lagi, influencer yang⁣ bekerja secara⁢ mandiri tidak mendapatkan ⁢keuntungan seperti pekerja kantoran. Mereka tidak mendapatkan jaminan kesehatan, uang pensiun, serta bonus tahunan.

Di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi, influencer menghadapi‍ tekanan yang semakin sulit untuk mengamankan ‌keuangan mereka.

Penghasilan ⁢dari Platform Makin Kecil

Pada 2020-2023, TikTok memiliki ⁣program‌ pendanaan ⁣untuk kreator hingga US$ 1 miliar. YouTube melalui fitur Shorts juga memungkinkan kreator menghasilkan uang sekitar‌ US$ 100-10.000 ⁤per bulan dengan program dana sementara.

Instagram Reels memberikan penghargaan⁤ ke ⁣kreator dalam ‌jumlah yang fluktuatif. ​Bonus besar diberikan sebagai taktik agar‌ semakin banyak orang membuat ⁤konten di platform mereka.

Namun, kini platform⁢ mulai mengubah kebijakan pembayaran untuk kreator konten. TikTok kini mensyaratkan kreator​ memiliki⁣ minimal 10.000 pengikut dengan setidaknya 100.000 view ⁣dalam sebulan.

Instagram juga menguji program⁤ eksklusif undangan yang memberikan ⁤penghargaan uang ​bagi kreator yang membagikan Reels dan foto.

YouTube memperkenalkan program pembagian ⁢pendapatan iklan pada tahun lalu⁤ untuk kreator Shorts‌ yang memiliki setidaknya 1.000 subscriber dan 10 juta view⁣ dalam 90 hari. Mereka‍ akan mendapatkan​ pembagian pendapatan iklan sebesar 45% untuk ‌konten yang mereka bagikan.

Seiring waktu,⁤ TikToker mengaku semakin sulit mendapatkan uang. Salah satunya Ben-Hyun yang mengatakan pada Maret lalu ia mendapatkan US$ 200-400 per‍ satu juta view. Namun, ‌kini pendapatannya ‌semakin menurun meski pengikutnya bertambah hingga ‍2,9 ​juta.

Ben-Hyun mengaku sekarang hanya mendapatkan US$ 120⁣ untuk video ⁢yang mencapai 10 juta view. Hal ini menunjukkan meski influencer memiliki banyak audiens,⁤ tetap sulit untuk memonetisasinya jika hanya berharap dari pendapatan platform.

Danisha Carter juga membagikan cerita serupa. Ia‍ mengatakan TikTok-nya memiliki 1,9 juta pengikut.

Menurutnya, para konten kreator berhasil membuat audiens ⁢’ketagihan’ ​di platform online dan mendatangkan pendapatan ​miliaran dolar AS ke TikTok dan ⁤lainnya.

Namun, bayaran untuk influencer tidak seimbang. Ia mengaku ‌mendapat pendapatan dari TikTok dengan total US$ 12.000. Untuk menambah pendapatan, ia memutuskan membuat merchandise dan⁢ mampu menghasilkan⁢ uang US$ 5.000 pada tahun lalu.

“Kreator‌ harus dibayar dengan adil dengan ⁣persentase yang sesuai dengan⁢ pendapatan yang diraih aplikasi,” kata Carter.

“Harus ada transparansi⁤ soal bagaimana kami dibayar, dan kebijakannya​ harus konsisten,” ia menyarankan.